Delay? Delay dalam dunia penerbangan sudah hal yang biasa terjadi. Delay merupakan salah satu indikator kesuksesan operational suatu airline. Sudah bukan menjadi rahasia jika suatu airline penerbangannya sering delay pasti akan rugi secara operasional. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah delay bisa dihilangkan dalam dunia pernerbangan?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat trend delay di negara maju seperti USA. Dari statitisk yang diterbitkan oleh AGIFORS, m2p.net menyebutkan bahwa penerbangan yang ontime di tahun 2007 sebesar 75,67%, penerbangan yang di “cancel” sebesar 1,71% dan penerbangan yang delay sebesar 22,62%. Dengan trend semakin meningkat jumlah penerbangan, konsekuensi delay juga meningkat. Artinya selama ada penerbangan namanya delay selalu ada, hanya jumlahnya yang bisa ditekan. Delay tidak bisa dihilangkan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengurangi jumlah penerbangan delay?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut hal mendasar yang harus diketahui adalah konsekuensi bagi si airline apabila penerbangannya delay? Mari kita lihat statistik dari AGIFORS berikut.
Setiap menit terjadi delay di USA pada tahun 2006, si airline harus menanggung biaya kerugian sebesar $57,08 atau sekitar 500 ribu rupiah. Selain itu hal dasar yang perlu dipahami adalah apakah penyebab terjadinya delay? Apakah penyebab tersebut bisa dikontrol oleh si airline? Bagi anda yang berkecimpung di dunia airline harusnya paham dan bisa menjawab pertanyaan di atas dengan baik. Menurut statistik AGIFORS bahwa beberapa penyebab delay tidak bisa dikontrol atau dikendalikan oleh si airline. Berikut summary penyebab delay dan penjelasannya yang saya kutip dari AGIFORS.
Dari beberapa delay tersebut beberapa yang bisa dikendalikan oleh si airline adalah ground handling, maintenance dan rotasi. Artinya bagi si airline dia harus bisa mengatur dan mengendalikan ketiga hal tersebut untuk mengurangi delay.
Beberapa cara untuk mengurangi delay adalah sebagai berikut :
Dari analisa AGIFORS di atas, dapat disimpulkan bahwa bagaimana untuk mengendalikan delay karena maintenance. Hal yang sering menjadi perhatian adalah “Lack of Buffers”. Dengan adanya operasional di outstation sudah menjadi konsekuensi si airline untuk menyediakan resources yang cukup di outstation, material/component, tools, manpower dan supporting communication. Delay yang panjang seringkali terjadi karena lama menunggu material, yang mana material harus dikirim dari Home base. Selain menyediakan resources hal yang menjadi krusial adalah bagaimana prosedur penyedian resources tersebut diatur dan dikontrol dengan baik dalam penerapannya.
First Departure Delay yang merupakan delay yang terjadi di penerbangan pertama setelah pesawat bermalam dapat dikurangi dengan beberapa hal menurut saya selain ketersediaan resources. Pengaturan shift kerja dan penjaminan kualitas maintenance.
Have + Day


